Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pameran Lukisan Tubuh Spiritual Welldo Wnophringgo di Surabaya 2026

Rabu, 15 April 2026 | April 15, 2026 WIB Last Updated 2026-04-16T05:19:46Z
 MediaPhatas.com || Surabaya - Pameran lukisan tunggal bertajuk “Tubuh-Tubuh Spiritual” karya perupa Welldo Wnophringgo resmi dibuka pada Rabu sore (15/04/2026) di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali No. 85 Surabaya.

Pameran ini akan berlangsung selama tujuh hari, mulai 15 hingga 21 April 2026, menghadirkan rangkaian karya yang tidak hanya menonjolkan estetika visual, tetapi juga kedalaman spiritual dan refleksi sosial.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Haryono, SE, dengan kurator Agus “Koecink” Sukamto, M.Sn, yang dikenal sebagai perupa sekaligus penulis seni rupa. Acara pembukaan turut dimeriahkan oleh performance art dari Welldo Wnophringgo dan Mbah Gimbal Sang Putra Alam, serta musik electone dari Rijal.

Sejumlah seniman turut hadir, di antaranya Taufik Hidayat atau yang akrab disapa Taufik “Monyong”, serta komunitas lintas budaya seperti Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog.

Dalam narasinya, Agus “Koecink” Sukamto menegaskan bahwa perjalanan seorang perupa tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan merupakan proses panjang evolusi batin yang terekam dalam karya visual.
“Pelukis atau Perupa bukan hanya sekedar menciptakan karya yang tertuang dalam goresan kanvas, melainkan juga mengekspresikan pesan dan keresahan jiwa yang dirasakan oleh sang pelukis tersebut,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa karya-karya Welldo menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari laku hidup (way of life) yang tidak bisa dibatasi oleh medium semata.
“Tangan atau tubuh seorang pelukis bukan lagi hanya sekedar memegang kuas, melainkan sebagai sarana kritik sosial terhadap ketimpangan di masyarakat khususnya kaum marjinal,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Welldo Wnophringgo menyampaikan pandangannya bahwa seni merupakan cermin realitas sosial sekaligus ruang ekspresi kegelisahan batin.

“Saya memposisikan diri saya sebagai saksi sekaligus pengritik realitas, isu-isu kemanusian dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui bahwa perjalanan kreatifnya kini memasuki fase baru yang lebih kontemplatif. Dari pengamatan terhadap realitas eksternal, ia beralih pada eksplorasi internal yang lebih dalam.

“Ini adalah fase dimana spiritualisme menjadi kompas utama dalam lukisan-lukisan saya, dan tidak lagi ‘berteriak’ menuntut perubahan sistem, melainkan ‘berbisik’ mengajak penyucian diri dan kesadaran akan eksistensi yang lebih tinggi,” pungkas Welldo.

Lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam pameran ini menghadirkan visual anatomi tubuh manusia dengan bentuk yang unik dan elastis, dipadukan dengan dinamika gerak yang ekspresif.

Setiap karya merepresentasikan hubungan antara tubuh, jiwa, dan alam dalam satu kesatuan yang harmonis. Perspektif yang diangkat memperlihatkan bahwa kehidupan berjalan dalam keteraturan dan keseimbangan, meski seringkali diwarnai oleh konflik sosial.(UD) 









Editor. Kancil
×
Berita Terbaru Update